Oleh: y0g4ajust's Blog | 12 April 2009

Plato – Ajaran tentang Ide dan Kejiwaan

Ajaran tentang ide-ide

Ajaran tentang ide-ide merupakan inti dan dasar seluruh filsafat plato. Bagi Plato ide merupakan sesuatu yang objektif. Menurutnya, ada ide-ide yang terlepas dari subjek yang berpikir. Ide-ide tidak diciptakan oleh pemikiran-pemikiran. Ide tidak tergantung pada pemikiran; sebaliknya, pemikiran tergantung pada ide-ide.

Adanya ide-ide

Asal usul ajaran Plato mengenai ide-ide adalah ilmu pasti. Ilmu pasti sangat diutamakan dalam akademia dan di bidang ini Plato dipengaruhi oleh kaum Pythagorean. Ilmu pasti tidak membicarakan gambar-gambar konkret. Pada waktu pelajaran ilmu ukur guru menggambarkan suatu segitiga tertentu. Tetapi dalil-dalil yang diterangkan tidak berlaku hanya untuk segitiga yang digambarkan saja. Dalil-dalil itu berlaku bagi semua segitiga pada umumnya. Plato menarik kesimpulan bahwa segitiga seperti itu mempunyai realitas juga, biarpun tidak dapat ditangkap oleh panca indra. Plato menyebutnya dengan kata-kata yunani idea serta eidos dan juga dengan kata morphê yang berarti “bentuk”.

Dua dunia

Dunia indrawi ditandai oleh pluralitas. Disamping “dunia” indrawi itu terdapat suatu “dunia” lain, suatu dunia ideal atau dunia yang terdiri atas ide-ide. Dalam dunia ideal ini tidak ada perubahan. Semua ide bersifat abadi dan sempurna. Plato mengungkapkan hubungan tersebut dengan tiga cara. [1] ide hadir dalam benda-benda konkret. [2] benda konkret mengambil bagian dalam ide. Plato mengintroduksikan paham “partisipasi” (metexis) ke dalam filsafat. [3] ide merupakan model atau contoh (paradeigma) bagi benda-benda konkret.

Dua jenis pengenalan

Menurut Plato ada dua jenis pengenalan. Pengenalan tentang ide-ide dan pengenalan tentang benda-benda jasmani. Plato menamakan pengenalan tentang ide-ide dengan kata epistêmê (pengetahuan, “knowledge”). Pengenalan ini mempunyai sifat” yang sama seperti objek” yang dituju olehnya: teguh, jelas dan tidak berubah. Rasio adalah alat untuk mencapai pengenalan dan ilmu pengetahuan adalah lapangan istimewa dimana pengenalan ini dipraktekkan. Pengenalan tentang benda-benda jasmani mempunyai sifat-sifat yang sama seperti objeknya: tidak tetap, selalu berubah. Plato menamakannya doxa (pendapat, “opinion”).

Hierarki antara ide-ide

Plato menamakan hubungan antara ide-ide sebagai “persekutuan” (konônia) dan dalam dialog-dialognya ia mencoba menerangkan kesatuan antara banyak ide itu. Dalam politeia ia mengatakan bahwa antara ide-ide terdapat suatu orde/hierarki. Dalam sophistês Plato mengusulkan pada puncak “dunia ideal” terdapat ide (ada, identik, lain, diam, dan gerak). Semua ide mempunyai hubungan dengan kelima ide tersebut.

Mitos tentang gua

Pengertian dari mitos gua ini adalah gua adalah dunia yang disajikan kepada panca indra kita. Kebanyakan orang dapat dibandingkan dengan orang tahanan yang terbelenggu; mereka menerima pengalaman spontan begitu saja. Tetapi ada beberapa orang yang mulai memperkirakan bahwa realitas indrawi tidak lain daripada bayang-bayang saja. Untuk mencapai kebenaran, yang perlu adalah suatu pendidikan; harus diadakan suatu usaha khusus untuk melepaskan diri dari panca indra yang menyesatkan.

Ajaran tentang jiwa

Plato menganggap jiwa sebagai pusat atau inti sari kepribadian manusia. Plato menciptakan suatu ajaran tentang jiwa yang berhubungan erat dengan pendiriannya mengenai ide-ide.

Kebakaan jiwa

Pada akhir apologia Sokrates mengatakan bahwa ia tidak tahu apakah kematian dapat disamakan dengan keadaan tidur tanpa impian ataukah kematian blh diumpamakan sebagai kepindahan ke tempat yang lebih baik. Plato berkeyakinan bahwa jiwa manusia bersifat baka. Salah satu argumen yang penting ialah kesamaan yang terdapat antara jiwa dan ide-ide. Ide bersifat abadi dan tidak berubah. Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa jiwa merupakan makhluk yang tidak berubah dan tidak akan mati. Dalam dialog Phaidros Plato menganggap jiwa sebagai prinsip yang menggerakkan dirinya sendiri dan olehnya juga dapat menggerakkan badan. Fungsi jiwa ini menuntut kebakaannya, karena tidak ada alasan mengapa pergerakan itu akan berhenti. Dalam dialog Gorgias diterangkan bahwa sesudah kematian semua jiwa akan diadili; mereka yang hidup dengan baik akan dibawa ke “pulau-pulau yang bahagia”, sedangkan mereka yang hidup jahat akan menderita selama-lamanya.

Mengenal sama dengan mengingat

Bagi Plato jiwa itu bukan saja bersifat baka, dalam arti bahwa jiwa tidak akan mati pada saat kematian badan (“immortal), melainkan juga bersifat kekal, karena sudah ada sebelum hidup di bumi ini. Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami suatu praeksistensi dimana ia memandang ide-ide. Berdasarkan perndiriannya mengenai pra-eksistensi jiwa, plato merancang suatu teori tentang pengenalan. Pengenalan pada pokoknya adalah pengingatan (anamnêsis) akan ide-ide yang telah dilihat pada waktu pra-eksistensi. Pengenalan indrawi (doxa) mencakup benda-benda konkret yang senantiasa dalam keadaan perubahan, sedangkan pengenalan akal budi (epistêmê) menyangkut ide-ide yang abadi dan tidak terubahkan. Karena benda-benda konkret selalu meniru ide-ide, harus disimpulkan bahwa pengenalan indrawi dapat merintis jalan bagi pengenalan akal budi.

“Bagian” jiwa

Dalam politeia jiwa terdiri dari tiga “bagian”. Kata “bagian” ini (yang dipakai plato: merê) harus dipahami sebagai “fungsi”. Bagian pertama ialah “bagian rasional” (to logistikon). Bagian kedua ialah “bagian keberanian” (to thymoeides). Bagian ketiga ialah “bagian keinginan” (to epithymêtikon). “Bagian keberanian” dapat dibandingkan dengan yang kita maksudkan dengan kehendak, sedangkan “bagian keinginan” menunjukkan hawa nafsu. “bagian keinginan” mempunyai pengendalian diri (sôphrosynê) sebagai keutamaan khusus. “Bagian keberanian” keutamaan yang spesifik ialah kegagalan (andreia). “Bagian rasional” dikaitkan dengan keutamaan kebijaksanaan (phronêsis atau sophia). Disamping itu ada lagi keadilan (dikaiosynê) yang tugasnya ialah menjamin keseimbangan antara ketiga bagian jiwa. Keempat keutamaan ini disebut “the cardinal virtues” (temperance, fortitude, prudence, justice). Dalam Phaidros, jiwa adalah seorang sais yang mengendarai dua kuda yang bersayap. Yang satu mau ke atas (=bagian keberanian); yang lain selalu menarik ke bawah (=bagian keinginan) sais (=bagian rasional) hendak mencapai puncak langit yang tertinggi, supaya dari sana ia dapat memandang “kerajaan ide” tetapi karena kesalah kuda yang selalu ingin ke bawah mereka kehilangan sayap-sayapnya dan jatuh ke bumi. Dalam dialog Timaios Plato menyebut ketiga bagian jiwa. “Bagian rasional dapat ditempatkan dalam kepala, “bagian keberanian” dalam dada dan “bagian keinginan” di bawah sekat rongga badan. Hanya “bagian rasional” saja yang bersifat baka; yang lain akan mati bersama dengan tubuh.

Dualisme

Ajaran Plato tentang manusia dinamakan “dualisme”. Plato tidak menerangkan manusia sebagai kesatuan yang sungguh-sungguh, tetapi memandangnya sebagai “dualitas”: suatu makhluk yang terdiri dari dua unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan. Tubuh adalah kubur bagi jiwa (sôma sêma) dan jiwa berada dalam tubuh bagaikan dalam penjara.

Jiwa dunia

Tubuh dan jiwa diciptakan oleh “Sang Tukang” (Dêmiurgos), yang untuk maksud itu menengadah pada ide-ide sebagai model.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: